Ini kisahku, namanya
Masa Putih Abu-abu. Biarpun namanya terlihat suram tapi inilah masa dimana
kisahku semasa SMA yang penuh warna. Waktu memang dengan cepat berlalu,
terhitung tahun, bulan, minggu, hari, jam, menit bahkan detik telah kulewati
penuh arti. Tersirat dalam benakku apa makna waktu yang telah terlewat bagi
perjalanan hidup ini. Tak kusangka akan secepat ini merasakan masa paling indah
yang pernah kurasakan masa putih abu-abu yang penuh canda tawa. Dimana suka
duka menyatu dalam kisahku. Waktu yang tak singkat memang, tiga tahun lamanya terlewati,
dan sekarang ibarat sudah berada di ujung waktu. Mungkin selama masa SMA, aku
menjadi seorang yang sok sibuk, saking sok sibuknya mencari les sana-sini,
pergi bersama teman-teman untuk sekedar mampir di kedai kopi di akhir weekend
untuk ngerefresh otak, atau bahkan ngepuasin tidur di siang hari bolong, ah
kalau diingat-ingat sungguh bahagianya masa abu-abuku.
Tapi aku harus tetap
menyongsong masa depanku. Menyiapkan masa-masa menjadi orang super sibuk dengan
jadwal mata kuliah yang sangat padat dan pasti akan sangat melelahkan. Hari ini
dan esok. Tak ada lagi bangun dipukul enam pagi, lalu bergegas mandi kemudian
berangkat ke sekolah sebelum bel berbunyi. Tak ada lagi candaan saat upacara
dalam barisan kelasku, yang terkadang spontan membuat gaduh jalannya upacara.
Tak ada lagi razia sepatu hingga kabur-kaburan bahkan seperti bermain petak
umpet dengan pembina kesiswaan. Itulah sederetan catatan-catatan konyol dibuku
harianku semasa putih abu-abu kemarin. Tapi sekarang inilah jalanku, jalan guna
menyongsong bersinarnya masa depanku bagaikan mentari menyingsing di pagi hari,
jalan yang kupilih untuk meneruskan pendidikanku ke jenjang perguruan tinggi.
Berjalan menjadi seorang yang sukses dan menorehkan senyum di bibir manis kedua
orang tuaku. Sungguh bahagianya mereka bila melihat aku menjadi anak
kebanggaannya.Aku mulai mendaftar di kampus–kampus pilihan
yang terbaik dan favorit. Unpad universitas yang didambakan oleh seluruh siswa
– siswi di Indonesia akhir-akhir ini mulai kulirik. Semakin kulirik akupun
berminat menyodorkan ijazahku disana. Namun apa daya hal ini tak mendapat
persetujuan dari kedua orang tuaku yang menginginkan anaknya untuk memilih
menjadi guru atau perawat. Rasa kecewa kini menyelimuti hatiku, karena
sebaik-baiknya keinginan kita adalah keinginan yang sejalan dengan keinginan
Tuhan. Tapi alangkah baiknya lagi jika aku mengikuti jalan yang di ridhoi kedua
orang tuaku karna tak lain Tuhan pun meridhoi.
Awal langkahku, aku
mengikuti beberapa tes, dari mulai yang namanya SNMPTN, SBMPTN hingga ujian
mandiri yang sungguh membuatku ketar-ketir. Rasanya itu seperti ngerasain naik
tebing, padahal saat masa abu-abuku aku hanya pernah merasakan naik tembok
sekolah karna terlambat. Bayangkan saja, rasanya seperti apa.
Hari ini aku mengikuti
tes pertama, aku duduk di sebelah kanan pojok depan. Dan ternyata aku
bersebelahan dengan seorang anak laki-laki yang kurasa aneh namanya. Setelah
kulihat anaknya ternyata anaknya seaneh namanya. Sungguh tamparan kecil di
pipiku karna tes pertama adalah tes bahasa, dan seperti ku ketahui aku
merasakan lemas setelah mendengar kata bahasa apalagi aku duduk dengan seorang
anak laki-laki.
“Aduh duduk di depan, nggak
bisa nyontek nih mana ada bahasa Inggrisnya pula”, ucapku kala itu.
Tiba – tiba anak
laki-laki yang duduk di sebelah kiriku bilang “Nih nyontek aku aja, gampang
kok”, laki-laki itu melihatku sambil ketawa kecil seperti mengejekku.Beberapa hari setelah
tes hasil ujian pun keluar dan hasilnya sesuai dengan apa yang aku
damba-dambakan. Ternyata aku pun lolos dan bisa masuk universitas yang
kudambakan.Siang yang terik dimana
matahari berada pada titik puncaknya serasa matahari tepat diatas kepalaku yang
sedang memanas siang itu. Kenapa tidak, hari pertama memasuki dunia baru, pendidikan baru, dunia
putih abu-abu yang kini telah berganti dengan dunia perkuliahan yang penuh
dengan senior yang terlihat garang.
Hari ini adalah hari
pertama ospekku. Ospek yang agak berbeda dengan mos dan waktu yang lebih
panjang dari mos yaitu sekitar 7 hari. Sungguh waktu yang lama bagiku. Seminggu
aku memasuki kampus megah nan mewah ini terasa semakin membuat bangganya aku menjadi
salah satu penghuni didalamnya dan aku berjanji tak akan mengecewakan siapapun
terlebih kedua orang tuaku. Dan takku kira ternyata hari ini adalah hari
terakhir ospek,
“Barang-barang kamu gak
ada yang ketinggalan lagi kan?” tanya riri kepadaku.
“Nggak udah aku masukin
ke ransel semua kok” jawabku.
“Yaudah yuk ngampus
nanti telat takut dimarahin kaka BEM yang killer itu” ajak Riri.
Aku dan Riri langsung
berjalan menuju kampus yang dekat dengan rumah kontrakan kita. Riri adalah
teman satu kontrakan denganku dan kebetulan satu mata kuliah denganku. Tak
terasa 10 menit kami berjalan. Akhirnya aku dan riri sudah berada di kampus
tercinta kami. My lovely campus. Hari penutupan ospek sangat melelahkan. Ada
salah satu kegiatan yang wajib di ikuti mahasiswa baru atau yang lebih ngetren
disebut maba. Itulah sejenis kegiatan wajib taunan di kampus untuk mengadakan
upacara malam inagurasi. Karena pada malam inagurasi akan dibagikan sertifikat
ospek yang membuktikan kalau mereka telah mengikuti kegiatan ospek selama 7
hari itu.
Setelah 7 hari melewati
masa ospek sekarang aku menjadi mahasiswa.
“Ah, akhirnya jadi anak
kuliahan juga nih, haha. Nggak sia-sia, keren juga bisa masuk perguruan tinggi,
terus kuliah, jadi anak ekonomi pula sesuai apa yang aku harapin,” batinku
dalam hati.
Mata kuliah pertama pun
telah usai dan dosen memberikan tugas yang menumpuk tak kunjung usai. “Ri ke
toko buku yuk? Mau nyari referensi buat tugas pak Tejo nih” aku mengajak Riri
yang masih asik dengan gadget dan earphone yang ada ditelinganya.
“Eh nih anak, diajak
ngobrol sibuk sendiri aja,” gumamku sambil mencubit pipi kanan Riri.
“Eh apa dhis? Sorry aku
ga denger tadi, ke toko buku? Okedeh hayu aja mah,” jawabnya.
Setelah menempuh
perjalanan dari dipatiukur menuju dago yang cukup lama karena terjebak macetnya
kota bandung di sore hari, akhirnya kita pun sampe di BIP. Riri yang berjalan
disebelahku langsung memasang earphonenya lagi ditelinga dan kita langsung
menuju ke gramedia di lantai 2. Mataku langsung mencari ke rak-rak buku, dari A
sampai Z ku cari buku yang sedang aku inginkan. Akhirnya aku melihatnya di rak
paling atas.
“Ri tolong ambilin dong
tuh buku yang paling atas nomer 2 dari kiri” pintaku ke Riri.
“Dih males ah tuh kan
ada kursi lo ambil aja sendiri dhis, bisa kan? Lokan cewe kuat masa gitu aja
nggak bisa,” Riri masih asik dengan gadgetnya.
Aku pun mulai berjinjit
agar buku itu bisa kuambil, tiba-tiba ada seorang dengan perawakan tinggi, putih,
dan atletis membantu mengambilkan buku yang sedang kucoba untuk meraihnya namun
tak dapat kuraih.
“Nih lo mau ambil buku
ini kan?” kata cowo sedang dihadapanku
“Loh kamu kan yang
waktu tes itu ya?” kataku dengan pede nya,
“Iya, kamu cewe yang
nyontek aku kan? haha,” sambil mengejek ku lagi.
“Iya maaf deh waktu itu
gak sengaja” aku tersipu malu
“gue Bima anak manaj,
nama lo siapa?” tanya bima yang langsung menyodorkan tangannya.
“gue adhisa panggil aja
adhis bim” sambil menyalami tangan bima
Ekhem ekhem suara
berdeham riri membangunkan lamunanku seketika, riri yang telah ada di sampingku
langsung menyenggol pinggangku.
“siapa nih dhis? Ada
cogan kok ga dikenalin ke gue sih” riri menatapku tajam
“ini bima ri, dulu kita
tes bareng pas masuk kesini” aku mulai menjelaskan pada riri
Tak terasa sudah pukul
9 malam dan waktunya kita untuk pulang sebelum kena denda jam malam yang akan
berlaku sejam lagi. Aku dan riri langsung keluar dan mencari angkot menuju arah
kontrakan kami yang berada di belakang gazibu persis.
“kita pulang duluan ya
bim” aku dan riri melambaikan tangan kepada bima
“Hati-hati yaa, sampe
ketemu besok di kampus” bima masih memasang senyum cool nya
Hari demi hari
hubunganku dengan Bima semakin dekat, Bima selalu menyempatkan kehadirannya
dalam keseharianku dan kita jalani hari – hari sebagai mahasiswa baru bersama.
Dia penuh perhatian terhadapku dan aku sangat nyaman di dekatnya. Hampir setiap
hari dia selalu menemaniku, seperti lebih dari seorang sahabat. Kemana-kemana
kita selalu berdua sudah seperti sepasang sendal yang tak tertukar.
Cuaca hari ini sungguh damai
nan indah, sambil menikmati pemandangan lautan yang terhempas luas di depan
mata. Pria yang duduk di sebelahku membuat suasana semakin sempurna. Bima
menggenggam erat tanganku seolah dia tak mau jauh dariku. Begitupun denganku,
ingin selalu dekat dengannya. Suara handphone berdering mengagetkan ku, ternyata
itu suara handphone Bima, ada BBM masuk. Tanpa sengaja aku melihat dari
samping, “Iya sayang ngerjain tugas yang bener”, isi BBM dari handphone Bima.
Hatiku langsung pecah berantakan, pikiranku sudah tercerai berai, hingga aku
mencoba menelan luadah dan tertegun melihatnya, tidak tau lagi mau berkata apa.
Pikiranku sudah kemana – mana, saat itu aku berfikir mugkin sudah ada wanita
lain di hati Bima. Wanita yang memang sudah mengisi kekosongan hati Bima
sebelum dekat atau bahkan kenal denganku. Entah syaitan mana yang merasuki
pikiranku hingga berpikiran sejauh itu, padahal aku ini bukan siapa-siapa bagi
Bima hanya sebatas teman. Bimapun hanya membaca isi BBm itu.
“Hey dhis, bengong aja
kamu, kenapa??”, tanya Bima,
“Gak apa – apa kok Bim,
itu tadi BBM dari siapa? kok gak kamu bales?siapa tau penting”, ucapku sambil
memancing Bima agar mau bercerita, karena di saat itu mungkin aku cemburu, atau
mungkin hanya perasaanku saja yang terlalu berharap lebih untuk bisa jadi yang
istimewa di hidup Bima, berharap memang aku dapat bersanding dengan dirinya.
Saat kejadian kemarin
di pantai, aku mencoba mencari tau tentang Bima dan wanita itu yang bernama
Nesa dari semua sosial media yang aku punya. Dugaanku selama ini benar,
ternyata Bima sudah meiliki kekasih. Hatiku berkecambuk, perasaanku sudah tidak
tahu mau gimana lagi, ingin menjauh dari Bima tapi tiap hari saja ketemu. Ingin
acuh namun rasanya aku sendiri tak sanggup. Aku merasa seperti orang bodoh
karena dengan mudah dikelabuinya dengan semua sikap manisnya kepadaku, aku
serasa hanya sebagai pelampiasannya saja, karena Nesa kekasih Bima dia ada di
luar kota, mugkin karena itulah salah satunya Bima agar tidak jenuh dan merasa
kesepian. Tapi apa alasannya Bima dia memberikan harapan kepadaku. Setega
itukah seorang laki-laki melukai hati wanita. Aku mulai diam dan aku bersikap
acuh kepada Bima, aku coba mnjauh dari dia agar bisa menjaga perasaanku tidak
terlalu dalam mengharapkan dia. Takut-takut aku malah menyakiti diriku sendiri.
“Adhisa, kamu kenapa
si? kok makin hari kamu jauhin aku, telfon gak diangkat, BBM gak di bales, kalo
ketemu ngehindar gitu aja, salahku apa?”, ucap Bima sambil memohon,
“Gausah lagi kamu
deketin aku kalau cuma mau ngasih harapan belaka bim”, ucapku.
“Harapan apa maksud
kamu dhis? Asal kamu tau aja ya, sejak aku kenal kamu, aku udah suka sama kamu,
kamu wanita hebat yang pernah aku temui, kamu bisa ngasih perhatian dan rasa
yang tulus lebih buat aku”,
“Tapi aku gak bisa bim,
udah ada wanita lain kan di hati kamu”, aku langsung lari gitu aja karena aku
gak mau bima tahu kalo air mataku gak bisa di tahan lagi.
Tak terasa air mataku
menetes di pipi kanan dan kiriku karena sudah tak mampu kubendung lagi. Akupun
lari dan Bima mengejarku, dia langsung memelukku, dan dia bilang
“Aku pilih kamu, dan
aku bakal putus dengan Nesa demi kamu, bukan karena aku mau menyakiti hati wanita,
tapi karena disana Nesa sudah menemukan kebhagaiaannya, dan kebahagianku bukan
dengan Nesa, tapi dengan kamu”, mendengar penjelasan Bima aku sedikit bernafas
lega, tapi aku nggak percaya gitu aja. Karena aku juga nggak mau patah hati.
Beberapa hari kemudian
aku biarkan hubungan ini gak jelas, aku melihat sikap Bima memang berubah lebih
baik, dia benar- benar sudah lepas kontak dengan Nesa, aku tahu karena sahabat
Bima yang bilang ke aku. Sikap Bima yang hangat ke Aku membuat aku semakin
percaya kalo Bima memang yang terbaik. Bima juga sudah banyak membantu kuliahku lebih
terasa ringan. Siang itupun aku menenui Bima dan aku minta maaf atas kesalahan
dan egoisnya perasaanku. “Bima, aku minta maaf, gak seharusnya aku bersikap
kaya gitu ke kamu”, aku sambil menggandeng tangan Bima. “Gak apa – apa kok dhis,
aku tau gimana perasaan kamu, aku mau semuanya baik – baik aja, dhis..kamu mau
kan jadi Pacarku?”bima memandang mataku dengan tajam, aku melihat dari matanya
dia benar – benar serius, tapi aku pura – pura gak tahu aja, “Apa kamu serius
bim?”, “Aku serius Adhisa putri wardhani, aku ingin selamanya bersama kamu”.
Akupun sangat bahagia mendengar perkataan bima, dan aku menerima bima.
Bertahun – tahun Aku
dan Bima melewati berbagai banyak hal, senang, sedih, kecewa, sakit kita lalui
bersama dengan kisah cinta yang begitu menggelegar. Tidak kusangka, awal
pertemuan masuk kuliah aku bisa menemukan cinta sejatiku. Hari – hariku dengan
Bima membuat iri pasangan lain. Kita jadi bisa memahami satu sama lain, lebih
berfikir dewasa. Lembaran penuh berbagai rintangan telah kita lalui. Penuh
wewangian bunga maupun bertabur duri. (Nova ✌)