Cute Rocking Baby Monkey

Jumat, 05 Desember 2014

Masa Putih Abu-abu

Diposting oleh Unknown di 03.43
Ini kisahku, namanya Masa Putih Abu-abu. Biarpun namanya terlihat suram tapi inilah masa dimana kisahku semasa SMA yang penuh warna. Waktu memang dengan cepat berlalu, terhitung tahun, bulan, minggu, hari, jam, menit bahkan detik telah kulewati penuh arti. Tersirat dalam benakku apa makna waktu yang telah terlewat bagi perjalanan hidup ini. Tak kusangka akan secepat ini merasakan masa paling indah yang pernah kurasakan masa putih abu-abu yang penuh canda tawa. Dimana suka duka menyatu dalam kisahku. Waktu yang tak singkat memang, tiga tahun lamanya terlewati, dan sekarang ibarat sudah berada di ujung waktu. Mungkin selama masa SMA, aku menjadi seorang yang sok sibuk, saking sok sibuknya mencari les sana-sini, pergi bersama teman-teman untuk sekedar mampir di kedai kopi di akhir weekend untuk ngerefresh otak, atau bahkan ngepuasin tidur di siang hari bolong, ah kalau diingat-ingat sungguh bahagianya masa abu-abuku.

Tapi aku harus tetap menyongsong masa depanku. Menyiapkan masa-masa menjadi orang super sibuk dengan jadwal mata kuliah yang sangat padat dan pasti akan sangat melelahkan. Hari ini dan esok. Tak ada lagi bangun dipukul enam pagi, lalu bergegas mandi kemudian berangkat ke sekolah sebelum bel berbunyi. Tak ada lagi candaan saat upacara dalam barisan kelasku, yang terkadang spontan membuat gaduh jalannya upacara. Tak ada lagi razia sepatu hingga kabur-kaburan bahkan seperti bermain petak umpet dengan pembina kesiswaan. Itulah sederetan catatan-catatan konyol dibuku harianku semasa putih abu-abu kemarin. Tapi sekarang inilah jalanku, jalan guna menyongsong bersinarnya masa depanku bagaikan mentari menyingsing di pagi hari, jalan yang kupilih untuk meneruskan pendidikanku ke jenjang perguruan tinggi. Berjalan menjadi seorang yang sukses dan menorehkan senyum di bibir manis kedua orang tuaku. Sungguh bahagianya mereka bila melihat aku menjadi anak kebanggaannya.Aku mulai mendaftar di kampus–kampus pilihan yang terbaik dan favorit. Unpad universitas yang didambakan oleh seluruh siswa – siswi di Indonesia akhir-akhir ini mulai kulirik. Semakin kulirik akupun berminat menyodorkan ijazahku disana. Namun apa daya hal ini tak mendapat persetujuan dari kedua orang tuaku yang menginginkan anaknya untuk memilih menjadi guru atau perawat. Rasa kecewa kini menyelimuti hatiku, karena sebaik-baiknya keinginan kita adalah keinginan yang sejalan dengan keinginan Tuhan. Tapi alangkah baiknya lagi jika aku mengikuti jalan yang di ridhoi kedua orang tuaku karna tak lain Tuhan pun meridhoi.

Awal langkahku, aku mengikuti beberapa tes, dari mulai yang namanya SNMPTN, SBMPTN hingga ujian mandiri yang sungguh membuatku ketar-ketir. Rasanya itu seperti ngerasain naik tebing, padahal saat masa abu-abuku aku hanya pernah merasakan naik tembok sekolah karna terlambat. Bayangkan saja, rasanya seperti apa.
Hari ini aku mengikuti tes pertama, aku duduk di sebelah kanan pojok depan. Dan ternyata aku bersebelahan dengan seorang anak laki-laki yang kurasa aneh namanya. Setelah kulihat anaknya ternyata anaknya seaneh namanya. Sungguh tamparan kecil di pipiku karna tes pertama adalah tes bahasa, dan seperti ku ketahui aku merasakan lemas setelah mendengar kata bahasa apalagi aku duduk dengan seorang anak laki-laki.

“Aduh duduk di depan, nggak bisa nyontek nih mana ada bahasa Inggrisnya pula”,  ucapku kala itu.

Tiba – tiba anak laki-laki yang duduk di sebelah kiriku bilang “Nih nyontek aku aja, gampang kok”, laki-laki itu melihatku sambil ketawa kecil seperti mengejekku.Beberapa hari setelah tes hasil ujian pun keluar dan hasilnya sesuai dengan apa yang aku damba-dambakan. Ternyata aku pun lolos dan bisa masuk universitas yang kudambakan.Siang yang terik dimana matahari berada pada titik puncaknya serasa matahari tepat diatas kepalaku yang sedang memanas siang itu. Kenapa tidak, hari pertama  memasuki dunia baru, pendidikan baru, dunia putih abu-abu yang kini telah berganti dengan dunia perkuliahan yang penuh dengan senior yang terlihat garang.

Hari ini adalah hari pertama ospekku. Ospek yang agak berbeda dengan mos dan waktu yang lebih panjang dari mos yaitu sekitar 7 hari. Sungguh waktu yang lama bagiku. Seminggu aku memasuki kampus megah nan mewah ini terasa semakin membuat bangganya aku menjadi salah satu penghuni didalamnya dan aku berjanji tak akan mengecewakan siapapun terlebih kedua orang tuaku. Dan takku kira ternyata hari ini adalah hari terakhir ospek,

“Barang-barang kamu gak ada yang ketinggalan lagi kan?” tanya riri kepadaku.

“Nggak udah aku masukin ke ransel semua kok” jawabku.

“Yaudah yuk ngampus nanti telat takut dimarahin kaka BEM yang killer itu” ajak Riri.

Aku dan Riri langsung berjalan menuju kampus yang dekat dengan rumah kontrakan kita. Riri adalah teman satu kontrakan denganku dan kebetulan satu mata kuliah denganku. Tak terasa 10 menit kami berjalan. Akhirnya aku dan riri sudah berada di kampus tercinta kami. My lovely campus. Hari penutupan ospek sangat melelahkan. Ada salah satu kegiatan yang wajib di ikuti mahasiswa baru atau yang lebih ngetren disebut maba. Itulah sejenis kegiatan wajib taunan di kampus untuk mengadakan upacara malam inagurasi. Karena pada malam inagurasi akan dibagikan sertifikat ospek yang membuktikan kalau mereka telah mengikuti kegiatan ospek selama 7 hari itu.

Setelah 7 hari melewati masa ospek sekarang aku menjadi mahasiswa.

“Ah, akhirnya jadi anak kuliahan juga nih, haha. Nggak sia-sia, keren juga bisa masuk perguruan tinggi, terus kuliah, jadi anak ekonomi pula sesuai apa yang aku harapin,” batinku dalam hati.

Mata kuliah pertama pun telah usai dan dosen memberikan tugas yang menumpuk tak kunjung usai. “Ri ke toko buku yuk? Mau nyari referensi buat tugas pak Tejo nih” aku mengajak Riri yang masih asik dengan gadget dan earphone yang ada ditelinganya.

“Eh nih anak, diajak ngobrol sibuk sendiri aja,” gumamku sambil mencubit pipi kanan Riri. 
“Eh apa dhis? Sorry aku ga denger tadi, ke toko buku? Okedeh hayu aja mah,” jawabnya. 
Setelah menempuh perjalanan dari dipatiukur menuju dago yang cukup lama karena terjebak macetnya kota bandung di sore hari, akhirnya kita pun sampe di BIP. Riri yang berjalan disebelahku langsung memasang earphonenya lagi ditelinga dan kita langsung menuju ke gramedia di lantai 2. Mataku langsung mencari ke rak-rak buku, dari A sampai Z ku cari buku yang sedang aku inginkan. Akhirnya aku melihatnya di rak paling atas. 
“Ri tolong ambilin dong tuh buku yang paling atas nomer 2 dari kiri” pintaku ke Riri. 
“Dih males ah tuh kan ada kursi lo ambil aja sendiri dhis, bisa kan? Lokan cewe kuat masa gitu aja nggak bisa,” Riri masih asik dengan gadgetnya. 
Aku pun mulai berjinjit agar buku itu bisa kuambil, tiba-tiba ada seorang dengan perawakan tinggi, putih, dan atletis membantu mengambilkan buku yang sedang kucoba untuk meraihnya namun tak dapat kuraih. 
“Nih lo mau ambil buku ini kan?” kata cowo sedang dihadapanku 
“Loh kamu kan yang waktu tes itu ya?” kataku dengan pede nya, 
“Iya, kamu cewe yang nyontek aku kan? haha,” sambil mengejek ku lagi. 
“Iya maaf deh waktu itu gak sengaja” aku tersipu malu 
“gue Bima anak manaj, nama lo siapa?” tanya bima yang langsung menyodorkan tangannya. 
“gue adhisa panggil aja adhis bim” sambil menyalami tangan bima 
Ekhem ekhem suara berdeham riri membangunkan lamunanku seketika, riri yang telah ada di sampingku langsung menyenggol pinggangku. 
“siapa nih dhis? Ada cogan kok ga dikenalin ke gue sih” riri menatapku tajam 
“ini bima ri, dulu kita tes bareng pas masuk kesini” aku mulai menjelaskan pada riri 
Tak terasa sudah pukul 9 malam dan waktunya kita untuk pulang sebelum kena denda jam malam yang akan berlaku sejam lagi. Aku dan riri langsung keluar dan mencari angkot menuju arah kontrakan kami yang berada di belakang gazibu persis. 
“kita pulang duluan ya bim” aku dan riri melambaikan tangan kepada bima 
“Hati-hati yaa, sampe ketemu besok di kampus” bima masih memasang senyum cool nya
Hari demi hari hubunganku dengan Bima semakin dekat, Bima selalu menyempatkan kehadirannya dalam keseharianku dan kita jalani hari – hari sebagai mahasiswa baru bersama. Dia penuh perhatian terhadapku dan aku sangat nyaman di dekatnya. Hampir setiap hari dia selalu menemaniku, seperti lebih dari seorang sahabat. Kemana-kemana kita selalu berdua sudah seperti sepasang sendal yang tak tertukar. 
Cuaca hari ini sungguh damai nan indah, sambil menikmati pemandangan lautan yang terhempas luas di depan mata. Pria yang duduk di sebelahku membuat suasana semakin sempurna. Bima menggenggam erat tanganku seolah dia tak mau jauh dariku. Begitupun denganku, ingin selalu dekat dengannya. Suara handphone berdering mengagetkan ku, ternyata itu suara handphone Bima, ada BBM masuk. Tanpa sengaja aku melihat dari samping, “Iya sayang ngerjain tugas yang bener”, isi BBM dari handphone Bima. Hatiku langsung pecah berantakan, pikiranku sudah tercerai berai, hingga aku mencoba menelan luadah dan tertegun melihatnya, tidak tau lagi mau berkata apa. Pikiranku sudah kemana – mana, saat itu aku berfikir mugkin sudah ada wanita lain di hati Bima. Wanita yang memang sudah mengisi kekosongan hati Bima sebelum dekat atau bahkan kenal denganku. Entah syaitan mana yang merasuki pikiranku hingga berpikiran sejauh itu, padahal aku ini bukan siapa-siapa bagi Bima hanya sebatas teman. Bimapun hanya membaca isi BBm itu. 
“Hey dhis, bengong aja kamu, kenapa??”, tanya Bima, 
“Gak apa – apa kok Bim, itu tadi BBM dari siapa? kok gak kamu bales?siapa tau penting”, ucapku sambil memancing Bima agar mau bercerita, karena di saat itu mungkin aku cemburu, atau mungkin hanya perasaanku saja yang terlalu berharap lebih untuk bisa jadi yang istimewa di hidup Bima, berharap memang aku dapat bersanding dengan dirinya. 
Saat kejadian kemarin di pantai, aku mencoba mencari tau tentang Bima dan wanita itu yang bernama Nesa dari semua sosial media yang aku punya. Dugaanku selama ini benar, ternyata Bima sudah meiliki kekasih. Hatiku berkecambuk, perasaanku sudah tidak tahu mau gimana lagi, ingin menjauh dari Bima tapi tiap hari saja ketemu. Ingin acuh namun rasanya aku sendiri tak sanggup. Aku merasa seperti orang bodoh karena dengan mudah dikelabuinya dengan semua sikap manisnya kepadaku, aku serasa hanya sebagai pelampiasannya saja, karena Nesa kekasih Bima dia ada di luar kota, mugkin karena itulah salah satunya Bima agar tidak jenuh dan merasa kesepian. Tapi apa alasannya Bima dia memberikan harapan kepadaku. Setega itukah seorang laki-laki melukai hati wanita. Aku mulai diam dan aku bersikap acuh kepada Bima, aku coba mnjauh dari dia agar bisa menjaga perasaanku tidak terlalu dalam mengharapkan dia. Takut-takut aku malah menyakiti diriku sendiri. 
“Adhisa, kamu kenapa si? kok makin hari kamu jauhin aku, telfon gak diangkat, BBM gak di bales, kalo ketemu ngehindar gitu aja, salahku apa?”, ucap Bima sambil memohon, 
“Gausah lagi kamu deketin aku kalau cuma mau ngasih harapan belaka bim”, ucapku. 
“Harapan apa maksud kamu dhis? Asal kamu tau aja ya, sejak aku kenal kamu, aku udah suka sama kamu, kamu wanita hebat yang pernah aku temui, kamu bisa ngasih perhatian dan rasa yang tulus lebih buat aku”, 
“Tapi aku gak bisa bim, udah ada wanita lain kan di hati kamu”, aku langsung lari gitu aja karena aku gak mau bima tahu kalo air mataku gak bisa di tahan lagi. 
Tak terasa air mataku menetes di pipi kanan dan kiriku karena sudah tak mampu kubendung lagi. Akupun lari dan Bima mengejarku, dia langsung memelukku, dan dia bilang 
“Aku pilih kamu, dan aku bakal putus dengan Nesa demi kamu, bukan karena aku mau menyakiti hati wanita, tapi karena disana Nesa sudah menemukan kebhagaiaannya, dan kebahagianku bukan dengan Nesa, tapi dengan kamu”, mendengar penjelasan Bima aku sedikit bernafas lega, tapi aku nggak percaya gitu aja. Karena aku juga nggak mau patah hati. 
Beberapa hari kemudian aku biarkan hubungan ini gak jelas, aku melihat sikap Bima memang berubah lebih baik, dia benar- benar sudah lepas kontak dengan Nesa, aku tahu karena sahabat Bima yang bilang ke aku. Sikap Bima yang hangat ke Aku membuat aku semakin percaya kalo Bima memang yang terbaik. Bima  juga sudah banyak membantu kuliahku lebih terasa ringan. Siang itupun aku menenui Bima dan aku minta maaf atas kesalahan dan egoisnya perasaanku. “Bima, aku minta maaf, gak seharusnya aku bersikap kaya gitu ke kamu”, aku sambil menggandeng tangan Bima. “Gak apa – apa kok dhis, aku tau gimana perasaan kamu, aku mau semuanya baik – baik aja, dhis..kamu mau kan jadi Pacarku?”bima memandang mataku dengan tajam, aku melihat dari matanya dia benar – benar serius, tapi aku pura – pura gak tahu aja, “Apa kamu serius bim?”, “Aku serius Adhisa putri wardhani, aku ingin selamanya bersama kamu”. Akupun sangat bahagia mendengar perkataan bima, dan aku menerima bima. 
Bertahun – tahun Aku dan Bima melewati berbagai banyak hal, senang, sedih, kecewa, sakit kita lalui bersama dengan kisah cinta yang begitu menggelegar. Tidak kusangka, awal pertemuan masuk kuliah aku bisa menemukan cinta sejatiku. Hari – hariku dengan Bima membuat iri pasangan lain. Kita jadi bisa memahami satu sama lain, lebih berfikir dewasa. Lembaran penuh berbagai rintangan telah kita lalui. Penuh wewangian bunga maupun bertabur duri. (Nova ✌)

0 komentar:

Posting Komentar

 

Girls Life Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review